Parameter Dari Sebuah Kebaikan dan Ketulusan Hati yang Sebenarnya

Tanganku pegal karena menulis resume makalah berhalaman-halaman. Sambil menunggu kopaja, lima meter dariku ada seorang lelaki memakai kemeja rapih, sepatu kulit, dan juga membawa tongkat. Sepertinya pulang dari tempatnya bekerja. Kedua matanya berwarna abu-abu. Tidak seperti mata mas-mas yang ku temui sebelumnya yang matanya masih seperti mata orang normal. Ia tak menggunakan kacamata. Debupun membuatnya mengucek-ngucek mata.
Sebelum dihampiri pengamen, aku sudah lebih cepat menghampirinya. Khawatir ia dicopet atau di apa-apakan.
“Mas mau kemana?”
“P20 AC mbak”
“Yuk bareng saya, sebentar lagi kopajanya dateng”
“Makasih mbak”
Sepertinya mas-mas ini ditimpa musibah kehilangan penglihatan bukan dari lahir, karena beliau memakai pakaian khas pegawai. Di sakunya ada name tag yang ia kantongi. Aku menarik ujung lengan kemejanya untuk memegang tasku. Kopaja lebih sulit dari angkot. Aku harus memasitikan mas-mas ini untuk tidak jatuh.
Eng Ing Eng….
Kami tidak dapat bangku. Tak satupun orang yang rela berdiri membagi bangkunya untuk penyandang disabilitas.
Bapak-bapak dan mas-mas sibuk pura-pura tidur, ibu-ibu sibuk ngobrol, gadis-gadis sibuk dengan gadgetnya. Kemana hak bangku prioritas. Hati ini memberontak!....
“Sebentar ya mas, belum ada bangku yang kosong” ujarku padanya.
“Mbak, gak papa saya berdiri aja…” sahut mas itu tegar. Tangan nya meraba-raba besi tempat bergelantung untuk penumpang yang berdiri.
“G usah mas, biar saya carikan..” jawabku
Sebelum aku meminta salah satu penumpang untuk bersedia berdiri memberikan bangku, Mendengar suaraku gusar mengusahakan bangku untuknya, Alhamdulillah ada seorang bapak-bapak rela membagi bangkunya untuk mas ini. Semoga Allah membalas kebaikannya. Aamiin
Sebelum turun mas ini tidak lupa pamit denganku
 “Terimakasih ya mbak, saya duluan”
“Tuk… Tuk…”
Tongkatnya mengetuk halte busway dimana dia berhenti. Melambaikan tangan dan tersenyum tanpa beban…
Ketika kopaja sudah melaju, kulihat dari jendela belakang, dia masih melambaikan tangan..
Ya Allah… Sembuhkanlah mereka..
Aku sudah terbiasa melihat orang yang tak bisa melihat di KRL. Tapi ada yang berbeda dari orang-orang yang tak bisa melihat yang aku jumpai belakangan ini.
Mereka mandiri, tidak menjadikan ke-buta-annya alat untuk meminta-minta, memelas kasihan dan mengais rupiah dari orang lain. Mereka tetap berpendidikan, tetap bekerja dan berpenampilan baik seperti orang normal. Bahkan lebih baik menurutku.
Ya Allah, Hamba-hambamu yang memiliki kekurangan pada penglihatannya saja masih mandiri bekerja, kenapa kami yang sempurna masih bermalas-malasan? 
Ya Allah, kami yang engkau beri kelebihan rizki penglihatan mata, masih sibuk memandang yang engkau haramkan,
Sibuk mengomentari buruk indahnya fisik orang-orang….
Masih sibuk memprosentasekan nilai kecantikan dan keburukan rupa orang lain…
Tapi lupa, ketulusan dan kebaikan hatilah parameter segalanya…
Mereka yang Engkau takdirkan tak bisa melihat..
Lebih mudah membedakan sebuah ketulusan ketimbang kami yang bisa melihat..
Karena mata hatinya lah yang melihat…
Kebaikan hatinya yang bekerja..
Dan telingan mereka lebih peka untuk mendengar tiap jeritan jiwa…
Ya Allah, aku mohon sembuhkanlah penglihatan mereka..
Aamiin..

kata-kata bijak, motivasi islam, bijak islam, petuah islami, nasehat islam, tausiah islam, tausiah, ustadzah, ustadzah, ustadz, ustadz, tausiyah, tausiyah
oleh : Naylin Najihah
Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg

Download Aplikasi Cerdas Cermat Islami ==>Disini
Download Aplikasi untuk melatih kecepatan berhitung==> Disini

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentar Dengan Baik Dan Sopan