Sidak Versi Umar Bin Khatab

Salah satu istilah yang paling populer dalam tugas para pejabat pemerintahan dalam tugas sehari-hari  adalah sidak. Akronim ini adalah merupakan kepanjangan dari inspeksi mendadak. Dari pengaplikasikannya di dunia nyata, sebenarnya bisa kita cerna bahwa yang dimaksudkan dengan sidak tersebut adalah peninjauan oleh aparat pemerintahan terhadap tugas-tugas yang telah di embankan kepada bawahannya, berdasarkan sidak ini pejabat terkait mengetahui apakah tugas-tugas yang telah diberikan itu dapat dilaksanakan secara amanah ataukah tidak sama sekali.

Ekuivalen dengan sidak ada pula istilah lain yang cukup populer  dipakai  kepada para pejabat ini yaitu TURBA, artinya adalah Turun Ke Bawah. ini dimaksudkan bahwa para pejabat dalam bekerja tidak hanya duduk dibelakang meja, namun juga terjun  langsung ke masyarakat untuk mengetahui  persoalan yang lebih mendalam dalam kehidupan bermasyarakat itu sendiri.

Sidak serta Turba sudah pasti sangatlah penting dilakukan bukan hanya oleh aparatur negara , tetapi juga oleh para pemimpin politik, tokoh organisasi kemasyarakatan, pemuka masyarakat dan bahkan dari kalangan pebisnis atau para manager perusahaan.

Banyak hal yang tentu saja bisa diambil faedah dari sidak dan turba, disamping bisa menguasai permasalahan yang lebih mendalam, lebih dari itu juga dapat menumbuhkan silaturrahmi antara pemimpin dan bawahan yang dekat lagi. komunikasi semakin baik , empati tumbuh  dan rasa kebersamaan tanpa dibatasi oleh lubang pemisah karena perbedaan strata jabatan.

Dalam penjelasan berikut, kami coba menguraikan bahwa apa yang disebut sidak dan turba pernah pula dilakukan oleh Khalifah Umar Bin Khatab Radhiyallahu 'Anhu, Salah satu dari khalifah yang empat yang memimpin pemerintahan sesudah wafatnya Rasulullah SAW, meskipun terdapat perbedaan yang sangat menyolok  antara Sidak Dizaman sekarang dan di masa kekhalifahan.

Sidak Atau Turba di zaman sekarang lebih bersifat paternalistik dan instruktif , artinya atasan selalu ditempatkan yang selalu dibenarkan. sedangkan bawahan lebih bersifat pasif atau menerima. Dalam sidak Atau Turba ini juga bawahan tidak berani melakukan kritik  terhadap atasan ataupun kepada para pimpinan.

=========================

Pada Dasarnya masyarakat islam cukup mengenal Khalifah Umar Bin Khatab berikut sejarah perjuangannya. Khalifah Umar Bin Khatab merupakan Khalifah kedua setelah Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq, Khalifah Umar sebelum masuk islam adalah seorang tokoh yang menjadi hambatan utama oleh para pengikut Nabi Muhammad SAW, Namun setelah Beliau masuk islam justru merupakan tokoh yang mempunyai banyak jasa bagi perkembangan islam di saat itu. Khalifah Umar Bin Khatab dikenal karena pemerintahannya yang sangat adil dan Bijaksana,

meskipun kedudukannya sebagai khalifah atau orang yang memiliki posisi tertinggi dilihat dari segi politik ataupun strata sosial dan sebagai khalifah, namun perilakunya sehari-hari sangat bertolak belakang dengan kedudukan atau jabatannya . Umar dalam kesehariannya tak lebih dari pelayan Allah yang melayani masyarakat Islam yang Beliau pimpin.

Khalifah Umar memang dikenal karena keadilannya dalam memerintah. Dan pengejawantahan watak keadilan ini dalam diri seorang pemimpin harus dipenuhi persyaratan, yakni harus mengetahui keluh kesah kehidupan rakyat. Umar memenuhi persyaratan tersebut  karena Beliau suka menyelami kehidupan masyarakat. Salah satu kebiasaannya adalah jalan-jalan kepasar, mengunjungi penduduk yang jauh dari hingar bingar pusat kota.  Berdialog dengan orang cacat, berdialog dengan orang yang sudah lanjut usia, Bukan hanya siang hari dia berkeliling  melihat kondisi kehidupan masyarakat, tetapi juga pada malam hari. Dari situlah Khalifah Umar berusaha mengetahui apakah pemerintahan nya berhasil memakmurkan rakyatnya atau tidak. Apakah pemerintahannya jadi pembicaraan tidak baik ataukah disukai. 

Dalam kunjungannya ketengah masyarakat itu tidak jarang pula Khalifah yang terkenal tegas ini dikritik secara tajam oleh masyarakat, Namun Khalifah Umar menerima dengan sikap yang terbuka.

Salah satu kisah yang mengharukan dari masa ke kahalifahan-nya, Beliau tidak hanya duduk dibelakang meja, namun berusaha menyelami kehidupan masyarakat secara lebih mendalam lagi , Dari sanalah Khalfiah Umar mengumpulkan informasi, mengkaji, hingga memperoleh hikmah untuk dijadikan pegangan dalam pemerintahannya, Seperti halnya pada kisah berikut :

Suatu malam khalifah umar berjalan-jalan dengan Aslam (Bekas budak Khalifah Umar) di kota madinah. Tibalah keduanya disebuah desa yang bernama "Hurrah Waqim". Keduanya merasa kedinginan. dari kejauhan , Khalifah Umar dan Aslam melihat cahaya api yang memancar dari sebuah pondok, Lalu keduanya mendekat menuju tempat tersebut.

Sesampainya dirumah itu, Khalifah Umar mengucapkan salam. "Assalamualaikum" katanya
"'Alaikumus salam" jawab seorang perempuan

"Boleh kami memasuki rumah anda.." kata khalifah Umar
"Dengan senang hati.. silahkan.." jawabnya

Khalifah Umar dan Aslam masuk kepondok tersebut. Keduanya melihat seorang anak yang sedang menangis dan sebuah periuk yang diletakkan diatas tungku yang sedang dinyalakan.

"Apa isi periuk ini, dan kenapa anakmu menangis", Tanya Khalifah Umar

"Anak ini menangis karena sedang merasa lapar, dan saya menyalakan api supaya disangkanya sedang memasakkan makanan. Dan kalau telah lama menangis, tentu pada akhirnya  ia akan tertidur", jawab perempuan tersebut.

"antara saya dan khalifah Umar nanti, tentu saja Allah akan mengadakan perhitungan" lanjutnya

"apakah khalifah Umar tidak mengetahui keadaanmu?", Tanya Khalifah Umar.

Perempuan Itu menjawab, "Dia diangkat menjadi khalifah untuk memperhatikan kami"

Mendengar jawaban perempuan tersebut Khalifah Umar lalu mengajak Aslam pergi, Keduanya pergi ketempat penggilingan tepung, Khalifah Umar mengambil beberapa karung tepung dan daging, lantas dipikulnya sendiri.

Aslam sebagai bawahan dengan sigap merespon, "Biarlah saya yang memikulnya Ya Khalifah", namun Khalifah Umar menolaknya, dan berbalik bertanya... "Aslam, bisakah kau memikul dosaku dihari kiamat nanti?"

"tentu tidak Ya Khalifah.." jawab aslam

"karena itu, maka biarkanlah aku sendiri yang akan memikulnya...." tegas Khalifah Umar.

Keduanya terus berjalan kerumah perempuan tersebut,

Sesampainya dirumah tersebut, Khalifah Umar  dan Aslam masih juga menolongnya memasakkan  makanan, hingga akhirnya keluarga tersebut makan sampai kenyang,

Tak lama kemudian Khalifah Umar memohon ijin untuk pulang. 

Perempuan tersebut berkata..."Semoga Allah membalas jasamu saudaraku, karena  apa yang telah kamu lakukan ini, sesungguhnya jauh lebih mulia dari pekerjaan Khalifah Umar..". 

 Khalifah Umar berlalu, pun tanpa diketahui identitasnya.....

Subhannallah ... adakah pelajaran yang bisa kita ambil...?





Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg

Download Aplikasi Cerdas Cermat Islami ==>Disini
Download Aplikasi untuk melatih kecepatan berhitung==> Disini

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentar Dengan Baik Dan Sopan